Review: Wishing Stairs (2003) & Voice (2005)

Wishing Stairs


Sebuah legenda tentang tangga yang dapat mengabulkan permintaan, ketika menginjak anak tangga ke 29, roh akan mengabulkan permintaannya. Cerita ini berfokus antara 2 sahabat, Kime So-hee (Han-byeol Park) dan Yoon Jin-sung (Ji  hyo Song) yang sama-sama siswa sekolah ballet. Ketika sebuah kompetisi dimana pemenang kompetisi tersebut akan berangkat ke sekolah ballet terkenal di Rusia mulai memecah persahabatan mereka. Jin-sung sangat berharap bisa menang dari So-hee yang paling mempunyai peluang memenangkan kompetisi ini. Kim So-heen pun mendatangi tangga yang dapat mengabulkan permintaan itu. Awalnya Jin-sung tidak percaya akan legenda itu, tapi setelah melihat Eon Hae-Ju (An Jo) seorang siswi gendut dan jelek yang tiba-tiba berubah kurus karena berdoa di tangga tersebut, Kim So Heen pun percaya. Kim Sho-heen meminta dapat mengalahkan So Hee. Tapi harga yang harus dibayar Jin-sung dari doanya tersebut ternyata membuat So Hee meninggal. Jin Sung pun memenangkan kompetisi itu. Beralih ke Eon Hae Ju, dia ternyata sangat menyukai So-hee, karena kematian So-hee, Hae-ju menjadi kesepian. Hae-ju pun meminta ke Wishing Stairs supaya So-hee kembali. Arwah So-hee pun bangkit dan mulai menghantui Jin-sung.

Seri terbaik dari kelima seri dari Whispering Corridors. Dimana unsur drama dan horrornya sangat pas. Awal film anda akan dikenalkan karakter Hae Ju yang sedikit kelihatan sebagai seorang siswi psycho yang sangat menyukasi So Hee, karakter So-hee yang begitu cantik dan pintar dalam menari ballet dan karakter Jin Sung seorang siswi yang ambisius sampai melupakan arti sebuah persahabatan. Wishing Stairs masih memegang teguh tema persahabatan sebagai plot utama seperti dua film sebelumnya. Unsur horror yang diletakkan di menit-menit terakhir terasa pas sebagai klimaks film ini. Akting para artis disini juga mampu membangkitkan emosional saya.  Hyo-song sebagai Jin Sung yang menurut saya paling bagus, saya benar-benar bisa merasakan rasa kehilangan So-hee karena kesalahannya yang terlalu berambisi. Begitu juga An-Jo sebagai Hae-ju yang adegan paling bagus di film ini ketika dia makan secara membabi buta. Yup, Wishing Stairs akhirnya memuaskan rasa penasaran saya untuk mendapatkan drama dan horror yang berbanding setara yang sebelumnya masih belum saya dapatkan di Whispering Corridors dan Memento Mori.

Rating: 3/5

Voice


Film diawali dengan Young-eon (Kim Ok-bin), seorang penyanyi yang mempunyai suara bagus di sebuah sekolah khusu wanita, terbunuh oleh sebuah selembar partiture yang memoting lehernya.  Keesokan harinya Young-eon mendapati kenyataan yang buruk, teman-teman di sekolahnya tidak bisa melihat dan mendengar suaranya kecuali Seon-min (Seo Ji-hye) sahabatnya. Setelah memastikan bahwa suara yang didengar Seon-min adalah benar-benar Young-eon,  Young-eon pun meminta bantuan sahabatnya itu untuk mencari tahu kenapa dia bisa meninggal. Seon-min mencurigai guru musiknya, karena Seon-min melihat guru musiknya itu memasuki ruangan music. Tapi kecurigaan Seon-min terhadap gurunya mendadak sirna, karena gurunya tersebut ditemukan gantung diri di ruangan musik.

Voice, seri keempat dari kelima seri Whispering Corridors ini yang ceritanya benar-benar bikin saya setengah mati. Banyak pertanyaan muncul setelah saya menonton film ini, Kok bisa dia yang ternyata berada di balik kematian di sekolah ini. Bahkan saat saya menulis reviewnya ini, saya belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu (mungkin otak saya saat nonton kemaren lagi beku :P). Ik-hwan Choe mengajak kita bolak-balik, lagi ke masa sebelum Young-Eon mati lagi kembali ke masa setelah dia mati. Sedikit membingungkan sih,karena hal ini terlalu sering dalam film. Mungkin tujuan sutradaranya untuk mengajak penonton membaca cerita dan berhasil mengungkap misteri di film ini (seperti menonton serial detektif) Akting para actor disini juga tidak sebagus acting di tiga sebelumnya. Mereka tidak bisa mengajak penonton untuk ikut merasakan emosinya. Hanya satu yang sangat saya suka dari film ini, musiknya. Benar-benar terdengar mengerikan.  Jika Anda ingin menikmati perasaan dingin dan membiarkan stres Anda terbang dengan berteriak, saya benar-benar tidak  merekomendasikan film ini. Jika kalian menyukai hal-hal detektif, saya sangat merekomendasikan hal ini kepada Anda.

Rating: 2,5/5

6 thoughts on “Review: Wishing Stairs (2003) & Voice (2005)”

  1. Wishing Stairs belum pernah nnton, tapi voice udah , voice itu film yang tipenya di tonton trus di lupain, bukan karena jeleknya tapi karena semakin kita mengigatnya semakin bingung dengan ceritanya

    1. iya, ga jelek sih… tapi saya nggak bisa nangkep ceritanya… ia tipe film yang ditonton terus dilupakan, kayaknya beberapa film korea juga gini. Film korea itu terlalu art yah..

  2. Saya setuju banget.. Voice itu membingungkan saya.. Terlalu banyak yang tidak bisa dimengerti… saya selalu kepikiran maksud dari film itu. Dan selalu bertanya kenapa Cho Ah itu ikut dibunuh juga? apa alasannya?. Trus si Young Eon itu sebenarnya antagonis atau protagonis dalam film ini? trus yang membunuh dia guru musik itu atau siswa yang mati itu? Saya kasihan sama karakter Sun Min.. dia seperti sangat terbebani… film yang sangat membingungkan. Kalo whising stairs baru yang bagus. Mudah dimengerti dan gak banyak pertanyaan yang muncul. Acting pemainnya juga dapet banget. Keren deh pokoknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>