Review: Friday The 13th (1980)

Ngomongin Friday The 13th , satu sosok yang otomatis nongol di otak para gila horror atau bukan gila horror pasti si pria berpostur layaknya pegulat, dengan topeng hoki dan senjata machete khasnya. Yup, Jason Vorhess, karakter horror yang begitu ikonik yang terkenal lewat franchise Friday The 13th. Friday The 13th ini merupakan bagian pertama dari franchise yang ngelambungin nama Jason Vorhess. Film yang sarat dengan dua unsur paling kuat dalam horror era 80-an yaitu seks dan kekerasan ini menurut gw jadi satu film horror slasher terbaik. Namun sayangnya, reputasinya dinodai tidak hanya oleh remakenya yang muncul di tahun 2009 tapi juga oleh sembilan sequelnya.

Ceritanya sendiri bermula saat perkemahan di Crystal Lake yang sudah ditutup dibuka kembali oleh Steve Christy. Camp ini ditutup dengan alasan telah terjadi pembunuhan dua orang petugas camp oleh seseorang yang nggak dikenali identitasnya. Di camp ini juga seorang bocah bernama Jason tewas tenggelam yang seharusnya bisa terselamatkan seandainya dua penjaga camp tidak mempraktekkan gaya 69 disana (emang, gaya 69 itu bisa bikin melupakan dunia nyata sejenak). Steve Christy pun menugaskan Annie untuk pergi ke camp itu. Annie (Robby Morgan) sebenarnya sudah diperingati untuk tidak pergi kesana karena tempat itu sudah dianggap terkutuk, tapi karena tidak percaya yang namanya mitos, hantu dan kutukan jadi dia mengabaikan peringatan itu.

DI camp itu sendiri sudah ada Alice (Adrienne King), Marcie (Jeannine Taylor), Jack (Kevin Bacon), Bill (Harry Crosby), Brenda (Laurie Bartram) ame Ned (Mark Nelson) yang bakal ngebantuin Annie untuk ngurusin camp ini. Semuanya berawal dengan aman tapi akhirnya berubah mengerikan ketika satu-persatu orang-orang ini mulai mati. Yah, seperti film-film bertema slasher sekarang, satu orang (biasanya perempuan) bakalan selamat setelah bertarung dengan sang pembunuh. Voila… dan muncullah ending yang mengacu dibuatnya Friday The 13th Part II setahun kemudian.


Friday The 13th ceritanya emang seperti film-film slasher sekarang, maklum karena film arahan Sean S Cunningham yang naskahnya ditulis oleh Victor Miller dianggap sebagai awal dari rumusan jalan cerita horror slasher sekarang. Sekelompok remaja bodoh dan horny yang menjadi incaran pembunuh sebagai bagian dari pestanya, salah satu dari kelompok itu selamat (yang biasanya perempuan), sampai pada ending plus opening dari sequelnya. Kalau diibaratin penemu, Friday The 13th ini seperti Alexander Graham Bell yang nemuin Lampu terus dibuat lampu versi baru yang tetep aja itu lampu. Yah, ceritanya emang standart banget tapi Friday The 13th tetep mampu memberikan rasa tegang pada saat itu bahkan juga sekarang.

Mengesampingkan ceritanya yang standar, sekarang kite lihat special efek yang dibuat sama suhu dari special efek horror Tom Savini. Tanpa balutan CGI kayak sekarang, Tom Savini ngebikin special efeknya sangat apik, awesome, mengerikan untuk tahun ini. Yah, efek yang dibuat tanpa campur tangan CGI memang terlihat lebih nyata. Makanya gw lebih suka ngelihat special efek tahun-tahun jebot dibandingin ame yang sekarang. Lebih nampol. Sedikit mengecewakan di film ini karena Tom Savini ternyata tidak terlalu banyak bermain-main dengan darah, tidak kayak special efek film-film sebelumnya yang dia bikin.


Scoringnya yang klasik dibuat oleh Harry Menfredini. Sepi dan mengerikan, tidak seramai scoring-scoring film horror sekarang yang membuat penonton lebih kaget dibandingin ama penampakannya. Scoring jadi salah satu faktor kenapa gw suka ama film-film jadul selain special efek non CGI. Dari jajaran pemainnya, mungkin Betsy Palmer sebagai Mrs. Vorhess lah yang paling mencuri perhatian walau kemunculan paling sedikit. Adrienne King pun cukup apik memerankan tokoh Alice terutama di bagian teriak-teriak ketakutan dan lari tunggang langgang ngehindarin pembunuhnya. Oh yah, adegan terakhir yang menurut gw adegan paling seru dimana Adrienne King bergulat dengan pembunuh yang seterusnya diselesaikan dengan menebas kepala sang pembunuh dilakoni cukup lumayan oleh King.

Friday The 13th emang kagak segelap Black Christmas atau setegang Halloween di jajaran film horror bertema slasher, tapi tetap jadi sebuah suguhan horror slasher yang menarik. Apalagi, plot dalam film ini menjadi pakem film-film horror slasher selanjutnya. Yeah, sangat menikmati bagaimana para pemuda disini dibunuh oleh sang pembunuh, ya karena itulah kenikmatan dari film yang kemudian dibuat sekuelnya setahun kemudian.

Rating: 3/5

5 comments on this post.
  1. Adiet's Media:

    wah pingin yg part 2 bli !!!

  2. firman:

    Salah satu pelm horror favorit saya, sempet punya versi VHS-nya (atau Betamax ya) tapi pas mo di transfer ke kompie, pitanya udah pada jamuran. Pengen koleksi pelm ni lagi, cuma nyari versinya yang original susah banget.

  3. Agung Pushandaka:

    Dulu saya dan keluarga selalu nonton bareng serial tv-nya di TVRI setiap hari Jumat. Tapi serial tv-nya bercerita tentang barang-barang yang mempunyai kekuatan supranatural gitu, bukan tentang Jason.

  4. Dirgantara:

    iya bli, ada juga serial TV dengan judul yang sama. Nah kalau Friday 13th yang dibahas ini movie bukan serial..

  5. Hadi:

    saya punya bajakan hong kong yang di mangga dua (pake box 3d bonus kacamata 3d hehehehe…) untuk Part II nya, sedangkan part III nya ori vcd (banyak sensor). jadi nyesel pas kuliah ada rental vcd bangkrut mau jual semua film horor jadul termasuk film Friday the 13 lengkap hikkksssss nysel banget

Leave a comment